Thalhah Bin Ubaidillah Orang Mati yang Masih Hidup

Orang Mati yang Masih Hidup

...... طَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ 
“…..Thalhah di dalam syurga.”
Pada hari Uhud, diawali ketika kaum mislimin melarikan diri dari Rasulullah dan tidak tersisa bersama beliau kecuali sebelas orang laki-laki kaum anshar dan Thalhah bin Ubaidillah dari golongan Muhajirin.

Ketika itu Nabi berserta kaum muslimin sudah terdesak. Nabi bersama sebelas orang dan Thalhah lari ke atas bukit. Di belakang mereka, pasukan musyrik sudah siap membunuh Rasulullah, mereka menghunus pedang-pedang serta senjata mereka. Rasulullah kemudian bersabda, 
“Siapa yang mau menghalau mereka dari kita, dia akan menjadi pendampingku di syurga.”
Thalhah yang ketika itu sedang berdiri mengangkat tangannya, 
“Saya wahai Rasulullah.”
“Tidak, kamu tetap di tempatmu.” 
ucap Rasulullah.

Lalu berkatalah salah seorang dari golongan Anshar, 
“Saya wahai Rasulullah.”
Maka Rasulullah mempersilahkannya, 
“Ya, kamu.”

Setelah mendapat izin dari Rasulullah, orang tadi kemudian berperang habis-habisan, menghalau setiap serangan musuh sampai dia terbunuh. Rasulullah bersama sisa sahabatnya terus menaiki bukit sedangkan di belakang mereka ada kaum musyrikin yang bringas ingin membunuh Rasulullah. Beliau kemudian bersabda, 
“Tidakkah ada seorang laki-laki yang mau menghadang mereka?”
Thalhah kembali mengangkat tangan, 
“Saya wahai Rasulullah.”
Namun Rasulullah kembali tidak memperkenankannya, 
“Tidak, kamu tetap di tempatmu.”
Lalu berkatalah salah seorang laki-laki kaum Anshar, 
“Saya wahai Rasulullah.”
Rasulullah bersabda, 
“Ya, kamu!”
Laki-laki itu kemudian meninggalkan rombongan. Membiarkan Rasulullah dan sisa sahabatnya terus menaiki bukit. Laki-laki itu berperang habis-habisan sampai dia terbunuh. 

Mengetahui sahabatnya yang tadi menawarkan diri telah gugur, Rasulullah kembali memberikan tawaran seperti tadi. Dan setiap Rasulullah memberikan tawaran, maka Thalhah adalah orang pertama yang berseru, 
“Saya wahai Rasulullah.” 
Sampai ketika semua sahabat yang bersama Rasulullah ketika itu sudah syahid, beliau baru memperkenankan Thalhah untuk maju menghadang kaum musyrikin.

Ketika itu kondisi Rasulullah sudah kepayahan. Gigi taringnya tanggal akibat serangan kaum musyrikin, darah segar juga mengucur dari dahi dan bibirnya, wajah beliau yang mulia dipenuhi oleh darah. Kondisi fisik beliau ketika itu juga buruk. Beliau sudah amat kelelahan akibat peperangan serta pengejaran tadi. 

Maka, melihat kekasihnya sudah kepayahan, bagai seekor singa, Thalhah menyerang pasukan musyrikin itu secara membabi-buta. Dia menebaskan pedangnya ke segala arah. Menangkis puluhan sabetan musuh, lantas berbalik menebaskan pedangnya. Satu persatu pasukan musuh berjatuhan. Setiap kali melihat musuhnya berkurang, Thalhah akan berbalik dan memapah Rasulullah supaya berjalan lebih atas dari bukit.

Tapi sayang, pasukan musuh ternyata begitu banyak. Mereka terus-menerus berdatangan, mengejar Rasulullah yang sudah terluka. Mengetahui hal itu, Thalhah kemudian menyandarkan kekasihnya di atas tanah, lantas kembali berperang dan membunuh semua pengejar itu. Satu sabetan mengenai tubuh Thalhah, diikuti oleh tusukan dan sabetan lainnya. Tapi Thalhah tidak menyerah, dia kembali berperang dengan gagah berani. Bagai banteng yang terluka, dia terus menyerang pasukan musyrik itu sampai mereka semua terbunuh.

Ketika itu, Abu Bakar sudah tiba menyusul Rasulullah. Dia mendapati beliau sedang bersandar di atas tanah dengan darah segar yang mengucur dari pelipisnya. Abu Bakar kemudian menghampiri beliau, hendak menolong. Tapi, belum sempat Abu Bakar memberikan pertolongan apa-apa, Rasulullah langsung bersabda, 
“Tinggalkan aku dan pergilah ke tempat teman kalian (Thalhah bin Ubaidillah)."
Abu Bakar yang selalu patuh kepada Rasulullah kemudian menuruti ucapannya. Segera balik kanan, mencari teman yang dimaksud Rasulullah. Beberapa saat mencari, akhirnya dia mendapati Thalhah sudah terkapar tak sadarkan diri di dalam sebuah lubang. Di sekitarnya, mayat orang-orang musyrik juga bergeletakan, penuh dengan luka yang disabetkan oleh Thalhah. Abu Bakar kemudian mendekati Thalhah. Dia mengangkat temannya itu dengan hati-hati. Lebih dari tujuh puluh luka menganga lebar di tubuhnya. Bahkan, telapak tangan Thalhah sampai putus akibat terkena sabetan pedang. 

Selepas peperangan, Rasulullah kemudian bersabda, 
“Barang siapa yang ingin melihat kepada seorang laki-laki yang berjalan di muka bumi, namun ia telah memenuhi janjinya (syahid), maka hendaklah ia melihat kepada Thalhah bin Ubaidillah.”
Itulah kisah tentang keberanian Thalhah bin Ubaidillah. Seorang sahabat yang berjuang membela Rasulullah. Seorang sahabat yang Rasul katakan sebagai orang yang berjalan di muka bumi, padahal  Ia sudah meninggal (syahid). Dialah, Thalhah bin Ubaidillah.

Di ambil dari buku terjemahan ats-Tsalatsuna Al Mubasysyaruuna bil Jannah, karya Dr. Musthafa Murad, dengan penggambaran dan cerita ulang yang disesuaikan dengan gaya bahasa Indonesia. 

Rihan Ihan

0 Comments

Posting Komentar