Hakikat Tauhid

Jangan Belajar Ilmu Tauhid
jika tidak mau selamat Dunia dan Akhirat

Tentu sangatlah penting mempelajari ilmu tauhid. Karena ini menyangkut landasan pokok atau prinsip. Coba Anda jawab pertanyaan saya. Kenapa Anda sholat? Kenapa Anda mengaji? Kenapa Anda beramal shaleh? Kenapa kenapa dan kenapa. Jangan-jangan karena ikut-ikutan saja, tanpa mengetahui makna dari setiap amalan yang Anda perbuat. Silahkan Anda simak baik-baik tulisan ini. Saya tidak merasa tauhid saya sudah bagus, namun saya ingin Tauhid menjadi kajian sehingga kita akan terus mencari, belajar dan terus belajar, memperkuat keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah.

Tauhid merupakan landasan pokok bagi setiap amal yang dikerjakan oleh seorang muslim. Amalan yang tidak dilandasi Tauhid yang benar (tuntunan Islam), tidak menjadi kepastian baginya untuk memperoleh kehidupan yang baik maupun kebahagiaan yang hakiki di akhirat kelak. Maka setiap amalan yang dilakukan seorang muslim haruslah sesuai dengan ajaran Islam yang ada di dalam Alquran dan Sunnah. Maka dari itulah betapa pentingnya untuk mempelajari tentang Tauhid.





Tauhid tidak hanya sekedar memahami prinsip penciptaan alam semesta, Allah adalah pencipta alam semesta, bukan juga sekedar mengetahui tentang keesaan-Nya, bukan juga sekedar mengenal Asma dan sifatNya.

Iblis saja mempunyai kepercayaan dalam dirinya bahwa Tuhannya adalah Allah, mengakui keesaan serta kemahakuasaan Allah, bahkan meminta kepada Alloh dengan Asma dan SifatNya.
(Iblis) menjawab, "Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya" (QS. Sad [38]: 82)
Kaum Jahiliyah yang dihadapi Rasulullah pun meyakini bahwa pencipta serta penguasa alam semesta ini adalah Allah.
Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab, "Allah." Katakanlah, "Segala puji bagi Allah," tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Luqman [31]: 25).
Katakanlah (Muhammad), "Milik siapakah bumi, dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?" (QS. Al-Mu'minun [23]: 84).
Mereka akan menjawab, "Milik Allah." Katakanlah, "Maka apakah kamu tidak ingat?" (QS. Al-Mu'minun [23]: 85).
Katakanlah, "Siapakah Tuhan yang memiliki langit yang tujuh dan yang memiliki 'Arsy yang agung?" (QS. Al-Mu'minun [23]: 86). 
Mereka akan menjawab, "(Milik) Allah." Katakanlah, "Maka mengapa kamu tidak bertakwa?" (QS. Al-Mu'minun [23]: 87).
Katakanlah, "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan segala sesuatu. Dia melindungi, dan tidak ada yang dapat dilindungi (dari azab-Nya), jika kamu mengetahui?" (QS. Al-Mu'minun [23]: 88).
Mereka akan menjawab, "(Milik) Allah." Katakanlah, "(Kalau demikian), maka bagaimana kamu sampai tertipu?" (QS. Al-Mu'minun [23]: 89). Dari ayat Alquran di atas, jelas bahwa mereka percaya dan yakin kepada Allah. Namun kepercayaan serta keyakinan mereka itu belumlah cukup untuk menjadikan mereka sebagai makhluk berpredikat Muslim, yang beriman kepada Allah. Maka timbul pertanyaan, "Apakah hakikat tauhid itu?"

Tauhid ialah pemurnian ibadah kepada Allah, yaitu menghambakan dirinya hanya kepada Allah secara murni, dengan menaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap, dan takut kepadaNya.

Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan oleh Allah. Jika kita kaji, sesungguhnya misi para rasul adalah untuk menegakkan tauhid.

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah, dan jauhilah Tagut," kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-Nahl [16]: 36). 
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku. (QS. Al-Anbiya [21]: 25).
Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (Kiamat)." (QS. Al-A'raf [7]: 59).  
Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?" (QS. Al-A'raf [7]: 65).  
Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih." (QS. Al-A'raf [7]: 73).
Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) Syu'aib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak adan Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman." (QS. Al-A'raf [7]: 85).

Hakikat dan Kedudukan Tauhid 

Allah berfirman,
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu. (QS.Adz-Dzariyat: 56).
Sudah jelas bahwa kita diciptakan oleh Allah agar kita beribadah hanya kepadaNya.
Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah, dengan menaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullaah.
Inilah hakikat agama Islam. karena makna dari Islam ialah menyerahkan diri kepada Allah semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepadaNya dengan penuh rasa rendah diri dan cinta. 
Ibadah juga dapat diartikan sebagai segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhai Allah. Dan suatu amal diterima oleh Allah sebagai suatu ibadah apabila diniatkan ikhlas, semata-mata hanya karena Allah, serta mengikuti tuntunan Rasulullaah.
Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut itu." (QS. An-Nahl: 36).
Maknanya adalah sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaghut. Thaghut adalah setiap yang diagungkan (selain Allah) dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia, ataupun setan. Menjauhi thaghut maknanya adalah mengingkarinya, membencinya, tidak mau menyembah dan memujanya baik dalam bentuk apapun serta dengan cara apa pun.
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (Al-Isra': 23-24).
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun (berbuat syirik). (An-Nisa: 36).
Berbuat syirik dapat diartikan memperlakukan sesuatu (selain Allah) sama dengan Allah dalam hal yang merupakan hak khusus bagiNya.
Katakanlah, "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atasmu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar." Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat, dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikanmu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (Al-An'am: 151-153).
Mu'adz bin Jabal menuturkan,
"Aku pernah diboncengkan Nabi di atas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku, 'Hai Mu'adz, tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hambaNya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah?' Aku menjawab, 'Allah dan RasulNya lebih mengetahui.' Beliau pun bersabda, 'Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hambaNya ialah supaya mereka beribadah kepadaNya saja dan tidak berbuat syirik sedikit pun kepadaNya; sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepadaNya.' Aku bertanya, 'Yaa Rasulallaah, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?' Beliau menjawab, 'Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri'." (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka).
Masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar sahabat, karena Rasulullaah menyuruh Mu'adz agar tidak memeberitahukannya kepada mereka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah sehingga tidak mau berlomba-lomba dalam mengerjakan amal shalih. Maka Mu'adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa (kalau beliau wafat sebelum menyampaikannya). Oleh sebab itu, di masa hidup Mu'adz masalah ini tidak diketahui kebanyakan sahabat. 

Kandungan Uraian 

  1. Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah.
  2. Ibadah adalah hakikat tauhid, karena pertentangan yang terjadi (antara Rasulullah dengan kaum musyrikin) adalah dalam hal tauhid ini.
  3. Barangsiapa yang belum melaksanakan tauhid ini, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada Allah. Inilah kandungan firman Allah, "Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah." (Al-Kafirun: 3).
  4. Hikmah diutusnya para Rasul, yaitu untuk menyerukan tauhid dan melarang syirik.
  5. Ajaran/tuntunan para Nabi adalah satu, yaitu tauhid (pemurnian ibadah kepada Allah).
  6. Ibadah kepada Allah tidak akan dapat terwujud dengan sebenar-benarnya kecuali dengan mengingkari thaghut. Inilah kandungan dari firman Allah, "Barangsiapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat." (Al-Baqarah: 256).
  7. Mengetahui hak Allah yang wajib kita laksanakan.
  8. Mengetahui hak para hamba Allah yang pasti akan dipenuhiNya, apabila mereka melaksanakan hakNya terhadap Allah.
  9. Jawaban (yang disyariatkan) bagi orang yang ditanya sedangkan dia tidak tahu, adalah: "Allahu wa Rasuluhu A'lam" (Allah dan RasulNya lebih mengetahui).
  10. Tauhid mempunyai kedudukan yang sangat mendasar.
Mari kita sama-sama terus belajar tentang Tauhid, sehingga keimanan dan ketakwaan kita terus meningkat dan tak tergoyahkan. Apalagi jika dilihat bahwa kita sekarang hidup di akhir zaman. Maka bersiap-siaplah...

0 Comments

Posting Komentar