Keadaan Arab Sebelum Islam

Hampir semua orang Arab bermukin di Semenanjung Arabia. Sebagian kecil ada juga yang bermukim di luar kawasan tersebut.

Kawasan Semenanjung Arabia terletak di barat-daya benua Asia. 
Bagian Utaranya berbatasan dengan sahara negeri Syam.


Bagian Timurnya berbatasan dengan Teluk Persia dan Laut Oman.
Bagian Selatannya berbatasan dengan Samudra Hindia.

Bagian Baratnya berbatasan dengan Laut Merah.

Datarannya yang tertinggi terletak di bagian Barat membujur ke Timur hingga negeri Oman. Di Semenanjung Arabia tidak terdapat sungai yang mengalir terus-menerus. Yang ada di sana hanya beberapa buah lembah yang kadang berair kadang kering. Di bagian tengah Semenanjung Arabia terdapat Gurun Sahara yang paling luas, dan keadaan alamnya di masing-masing kawasan Sahara itu tidak sama.
Keadaan Arab Sebelum Islam
Keadaan Arab Sebelum Islam
Kawasan Sahara yang bernama "Badiyatus-Samawah", atau yang dalam zaman sekarang dikenal dengan nama "Sahara Nufud" terletak di bagian Utara, membentang dari Utara ke Selatan sepanjang 140 mil, dan dari Timur ke Barat sepanjang 180 mil. Kawasan Sahara ini pasirnya amat sukar dilalui. Di kawasan ini tidak terdapat sumur dan mata air, hanya di beberapa bagian saja yang tidak banyak jumlahnya. Kawasan Sahara ini hanya dapat dilalui dengan jerih payah luar biasa, karena angin kencang puting beliung menghempas pasir dari berbagai jurusan hingga bergunduk-gunduk serupa dengan bukit. Di musim kemarau, udara amat panas dan di musim dingin ada kalanya hujan turun di beberapa tempat terpisah-pisah. Di situlah tetumbuhan Sahara dapat hidup, berbunga kecil-kecil dan beraneka ragam warnanya. Penduduk kawasan ini sebagian besar terdiri dari suku-suku Arab Badui (nomad). Di musim panas mereka pergi meninggalkan daerah pemukimannya kemudian kembali lagi bila musim dingin tiba, untuk menggembalakan unta dan ternak-ternak lainnya.

Kawasan Sahara yang terletak di bagian Selatan dan berbatasan dengan Sahara "Badiyatus-Samawah" membentang dari Timur hingga Teluk Persia, dan luasnya diperkirakan 50.000 mil persegi. Tanah yang melandasi padang sahara ini pada umumnya keras, di mana-mana terdapat batu-batu keriki dan pasirnya bergelombang. Apabila tiba musim hujan tumbuhlah berbagai jenis rerumputan. Pada musim itu orang-orang Arab badui berdatangan bersama keluarganya masing-masing untuk menggembalakan unta, kambing, dan ternak lainnya. Mereka tinggal di kawasan Sahara itu selama kurang lebih tiga bulan. Bila tiba musim panas dan semua tetumbuhan mengering mereka berbondong-bondong pulang ke daerah pemukiman semula. Tanah di kawasan ini pada umumnya gersang, hanya di beberapa bagian saja yang terdapat pepohonan, seperti semak belukar, hutan dan pohon-pohon kurma. Orang Arab menyebut kawasan Sahara ini dengan berbagai nama. Bagian yang terletak antara Yaman Timur dan Hadhramaut mereka namai "Al-Ahqaf", dan bagian yang terletak di Utara Maharah mereka namai "Ad-Dahna". Semua kawasan Sahara itulah yang dewasa ini disebut dengan nama "Ar-Rub'ul-Khalil".

Sahara yang bernama "Al-Harrah", jamak dari kata "Harrah" yang berarti tanah yang penuh dengan batu-batu berwarna hitam pekat seolah-olah terbakar api. Di kawasan Harrah itu terdapat banyak batu vulkanik berserakan dari Timur Hauran hingga ke Madinah. Kota Madinah sendiri terletak di antara dua Harrah. Di Semenanjung Arabia banyak terdapat Harrah, yang menurut penghitungan Yaqut di dalam "mu'jam"-nya berjumlah 29 Harrah. Yang paling terkenal diantaranya ialah Harrah Waqim. Di bagian inilah dahulu pernah terjadi peperangan yang disebut "Perang Harrah".

Apabila kita singkirkan gurun Sahara dari peta, kita menemukan dua daerah pemukiman di sebelah Barat Semenanjung Arabia, yaitu tanah Hijaz yang terletak di bagian Utara, dan tanah Yaman yang terletak di bagian Selatan. Hijaz merupakan daerah miskin, mempunyai banyak lembah, sering dilanda banjir bila turun hujan lebat dan airnya mengalir ke laut, sekalipun tidak seberapa banyak. Beberapa bagian di daerah itu beriklim sedang, seperti di Tha'if misalnya. Sedang di bagian-bagian yang lain udaranya sangat panas. Penduduk Hijaz pada umumnya terdiri dari orang-orang badui yang hidup mengembara. Jumlah mereka kurang lebih lima per enam dari jumlah semua penduduk, yang seperenam lainnya menetap di pedusunan dan kota-kota.

Hijaz merupakan kawasan penting mengingat kedudukannya sebagai lalu lintas perdagangan antara Yaman dan negeri-negeri di Utara. Jauh sebelum Islam banyak orang Yahudi berdatangan ke daerah itu, di sana mereka membuka tanah-tanah koloni seperti di Khaibar, Madinah dan lain-lain. Kota-kota di Hijaz yang paling terkenal ialah Makkah, sebuah dataran rendah yang tidak bertetumbuhan. Panjangnya dari Utara ke Selatan kurang lebih dua mil, dan lebarnya dari Timur ke Barat kurang lebih satu mil. Di Makkah tidak terdapat air selain sumur Zamzam. Sedangkan kota kedua, yakni Madinah, yang dahulunya bernama Yatsrib, terletak di sebelah Selatan gunung Uhud. Di kota ini terdapat banyak tanaman kurma. Khaibar terletak di Timur laut Madinah, tanahnya baik untuk bercocok tanam.

Di Selatan Hijaz terdapat negeri Yaman yang sejak dahulu kala terkenal sebagai daerah subur dan kaya. Kotanya yang paling tersohor adalah Shan'a, pusat kerajaan Yaman sejak masa silam. Di dekat Shan'a terdapat istana Ghimdan yang terkenal di mana-mana. Di bagian Tenggara Yaman, terdapat kota Ma'rib, tempat Ratu Saba' memerintah negeri itu pada zaman lampau. Kota-kota lainnya di Yaman ialah Najran dan Aden. Sejak dahulu penduduk Yaman mempunyai hubungan dengan orang-orang India dan negeri-negeri Timur Dekat.

Iklim di Semenanjung Arabia pada umumnya sangat panas. Pada musim kemarau udara di daerah-daerah dataran tinggi cukup sedang, tetapi bila datang musim dingin airnya membeku. Hembusan angin Timur yang nyaman dinamai "As-Shaba". Banyak penyair yang memuji-muji kesegarannya. Tiupan angin yang oleh penduduk dinamai "As Samum" adalah sebaliknya.

Banyak ahli penelitian menyimpulkan, bahwa orang-orang Arab penduduk Semenanjung Arabia berasal dari satu keturunan. Pada galibnya mereka adalah orang-orang badui dan sebagian besarnya hidup sebagai kabilah-kabilah pengembara, tidak bermukim tetap dan tidak terikat dengan tanah pemukimannya sebagaimana yang lazim berlaku di kalangan kaum tani. Mereka menantikan datangnya musim penghujan dan bila hujan turun cukup banyak mereka pergi meninggalkan pemukimannya masing-masing bersama-sama anggota keluarganya mencari-cari padang penggembalaan. Mereka tidak menghiraukan lingkungan hidup alamiah di sekitar pemukimannya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang hidup menetap di satu tempat. Mereka menggantungkan hidup semata-mata kepada bumi dan langit, bila turun hujan mereka menggembala ternak dan jika hujan yang ditunggu-tunggu tidak turun mereka hanya menunggu datangnya takdir yang baik. Cara hidup seperti itu tentu tidak dapat mengantarkan mereka ke dalam kehidupan modern, karena yang dapat mengantarkan ke dalam kehidupan modern ialah cara hidup menetap di satu tempat dan menggunakan akal pikiran untuk mengatur soal-soal kehidupan.

Hidup secara badui itulah yang dominan di Semenanjung Arabia, kendatipun di beberapa tempat terdapat cara hidup yang teratur, seperti di Yaman, misalnya.

0 Comments

Posting Komentar